Angin laut berhembus pelan menerpa wajah saya saat berdiri di dermaga Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Kapal-kapal feri berjejer rapi, siap mengantarkan ribuan pemudik menuju kampung halaman di seberang laut.
Ada romantisme tersendiri dalam mudik menggunakan kapal laut. Perjalanan yang lebih panjang memberikan waktu untuk merenung, mengobrol dengan sesama penumpang, atau sekadar menikmati pemandangan laut lepas yang membentang.
Seorang ibu paruh baya duduk di samping saya, tangannya menggenggam erat bungkusan berisi oleh-oleh untuk keluarga di Sulawesi. "Sudah dua tahun tidak pulang kampung. Rindu sekali," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Di era penerbangan murah dan tol trans-Jawa, jalur laut mungkin bukan pilihan utama bagi kebanyakan pemudik. Namun, bagi mereka yang tinggal di pulau-pulau di luar Jawa, kapal laut tetap menjadi penghubung utama dengan kampung halaman.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, mewarnai langit dengan gradasi jingga yang memukau. Kapal kami perlahan bergerak meninggalkan pelabuhan. Di kejauhan, lampu-lampu kota Surabaya mulai menyala satu per satu, mengucapkan selamat jalan kepada para pemudik yang pulang merayakan momen kebersamaan dengan keluarga.
Oleh:
Anindya Kusuma Pertiwi
Penulis dan Traveler
Revolusi Sunyi Pak Aan: Merawat Tradisi Lewat Layar Digital
Feature - 14 Februari 2026
Oleh: Andri Kurniawan, S.Pd.I, M.A
Menempa Jiwa di Tanah Bertuah: Perkajusa SD IT Al Fatih di...
Feature - 31 Januari 2026
Oleh: Adrio Valen
Menggagas Madrasah Futuristik: Harmoni Kecerdasan Buatan...
Opini - 23 Januari 2026
Oleh: Drs. H. Jufri
Pulanglah Saat Senja Merah, Menjemput Keberkahan di Balik...
Opini - 18 Januari 2026
Oleh: Sefriza Rahma, S.Pd.I