TARAM – Kabut tipis dan suasana syahdu menyelimuti kawasan Somak Tanjuong, Nagari Taram, pada akhir pekan ini. Di antara pepohonan yang rindang, terdengar riuh rendah suara anak-anak yang penuh semangat, memecah kesunyian alam. Bukan sekadar pelesiran, kawasan yang dikenal sakral dan ikonik ini—tempat berdirinya Surau Buya Hamka yang pernah menjadi latar film layar lebar sang ulama besar—kini berubah menjadi kawah candradimuka bagi para siswa Sekolah Alam SD IT Al Fatih.
Sejak Jumat pagi hingga Sabtu siang, lokasi bersejarah ini menjadi saksi bisu kegiatan Perkemahan Jumat-Sabtu (Perkajusa). Bagi para siswa, ini bukan sekadar wisata alam, melainkan sebuah "laboratorium hidup" tempat nilai-nilai kepanduan diuji dan ditempa secara nyata.
Jauh dari kenyamanan rumah, para siswa "dipaksa" untuk keluar dari zona nyaman. Kepala Sekolah SD IT Al Fatih, Nanda Satriawan, S.Pd, Gr, memandang kegiatan ini sebagai fondasi krusial dalam pembangunan karakter anak didiknya.
"Perkemahan ini adalah laboratorium hidup bagi seorang Pramuka. Di sini, siswa belajar bertahan hidup dengan fasilitas terbatas, memasak sendiri, dan mengurus keperluan pribadi jauh dari orang tua. Hal ini sangat krusial untuk melatih kemandirian mereka," ungkap Nanda dengan antusias.
Di bawah tenda-tenda sederhana, ego pribadi dikesampingkan. Nanda menekankan bahwa selain kemandirian, jiwa gotong royong adalah pelajaran termahal di sini. Mendirikan tenda yang kokoh atau menjaga kebersihan lingkungan bukanlah pekerjaan satu orang. Dibutuhkan kekompakan regu dan hati yang mau bekerja sama.
Kegiatan ini juga menjadi manifestasi nyata dari Dasadarma Pramuka kedua: Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Siswa diajak untuk tidak hanya menikmati keindahan Somak Tanjuong, tetapi juga mensyukurinya dengan cara menjaga kelestarian lingkungan tersebut.
Puncak kehangatan terjadi pada Jumat malam. Saat udara dingin mulai menusuk tulang, api unggun dinyalakan, memancarkan cahaya di tengah kegelapan. Momen ini menjadi lebih dari sekadar penghangat badan.
Para siswa berdiri melingkar, tanpa sekat, tanpa perbedaan. Formasi ini menyiratkan pesan mendalam tentang kesetaraan dan persaudaraan yang erat. Kobaran api yang menjilat langit malam dimaknai sebagai simbol semangat yang membara dalam dada setiap anggota Pramuka, sementara bara yang tersisa melambangkan keteguhan hati yang tak mudah padam.
Rangkaian kegiatan ditutup pada Sabtu siang dengan "Operasi Semut". Para siswa bahu-membahu menyisir area perkemahan, memastikan Somak Tanjuong kembali bersih seperti sedia kala—sebuah bukti tanggung jawab terhadap alam.
Saat tenda-tenda digulung dan ransel kembali dipanggul, ada yang berbeda dari wajah-wajah para siswa Sekolah Alam SD IT Al Fatih. Mereka tidak hanya membawa pulang lelah, tetapi juga semangat baru, kemandirian, dan karakter yang lebih tangguh untuk dibawa kembali ke sekolah dan ke tengah keluarga.
Oleh:
Adrio Valen
Kontributor
Revolusi Sunyi Pak Aan: Merawat Tradisi Lewat Layar Digital
Feature - 14 Februari 2026
Oleh: Andri Kurniawan, S.Pd.I, M.A
Menggagas Madrasah Futuristik: Harmoni Kecerdasan Buatan...
Opini - 23 Januari 2026
Oleh: Drs. H. Jufri
Pulanglah Saat Senja Merah, Menjemput Keberkahan di Balik...
Opini - 18 Januari 2026
Oleh: Sefriza Rahma, S.Pd.I
Makna Tahun Baru: Refleksi, Harapan, dan Semangat Memulai...
Kolom - 01 Januari 2026
Oleh: Anthony Hewish