Film "Pangku" karya sutradara Reza Rahadian adalah sebuah pukulan telak bagi kenyamanan kita sebagai penonton. Ia memaksa kita untuk melihat realitas yang selama ini mungkin kita abaikan: kehidupan perempuan-perempuan pekerja di warung kopi jalur Pantura.
Sartika, diperankan dengan sangat menyentuh oleh aktris pendatang baru, adalah representasi jutaan perempuan Indonesia yang terpaksa bekerja dalam kondisi yang tidak ideal demi bertahan hidup. Ia hamil, ditinggal suami, dan tidak punya pilihan lain selain menjadi pelayan di warung kopi "pangku".
Reza Rahadian yang selama ini kita kenal sebagai aktor, membuktikan kemampuannya sebagai sutradara dengan pendekatan yang matang dan sensitif. Ia tidak menghakimi karakter-karakternya, tidak pula menjadikan mereka sebagai objek simpati murahan.
Sinematografi film ini memukau. Keindahan dan kekerasan jalur Pantura ditangkap dengan jujur. Malam-malam yang terang benderang oleh lampu truk kontras dengan kegelapan yang menyelimuti kehidupan para perempuan pekerja warung.
"Pangku" bukan sekadar film. Ia adalah cermin yang memaksa kita untuk berefleksi tentang ketimpangan, eksploitasi, dan ketidakadilan yang masih terjadi di negeri ini. Film terbaik FFI 2025 ini wajib ditonton, bukan untuk hiburan, tetapi untuk pencerahan.
Rating: 9/10
Oleh:
Fikri Ramadhan Putra
Kritikus Film
Revolusi Sunyi Pak Aan: Merawat Tradisi Lewat Layar Digital
Feature - 14 Februari 2026
Oleh: Andri Kurniawan, S.Pd.I, M.A
Menempa Jiwa di Tanah Bertuah: Perkajusa SD IT Al Fatih di...
Feature - 31 Januari 2026
Oleh: Adrio Valen
Menggagas Madrasah Futuristik: Harmoni Kecerdasan Buatan...
Opini - 23 Januari 2026
Oleh: Drs. H. Jufri
Pulanglah Saat Senja Merah, Menjemput Keberkahan di Balik...
Opini - 18 Januari 2026
Oleh: Sefriza Rahma, S.Pd.I