Resensi Film Pangku: Ketika Sinema Menyuarakan Kaum Marginal


Fikri Ramadhan Putra

Fikri Ramadhan Putra

Kritikus Film

Sabtu, 20 Desember 2025 | Resensi

Film "Pangku" karya sutradara Reza Rahadian adalah sebuah pukulan telak bagi kenyamanan kita sebagai penonton. Ia memaksa kita untuk melihat realitas yang selama ini mungkin kita abaikan: kehidupan perempuan-perempuan pekerja di warung kopi jalur Pantura.

Sartika, diperankan dengan sangat menyentuh oleh aktris pendatang baru, adalah representasi jutaan perempuan Indonesia yang terpaksa bekerja dalam kondisi yang tidak ideal demi bertahan hidup. Ia hamil, ditinggal suami, dan tidak punya pilihan lain selain menjadi pelayan di warung kopi "pangku".

Reza Rahadian yang selama ini kita kenal sebagai aktor, membuktikan kemampuannya sebagai sutradara dengan pendekatan yang matang dan sensitif. Ia tidak menghakimi karakter-karakternya, tidak pula menjadikan mereka sebagai objek simpati murahan.

Sinematografi film ini memukau. Keindahan dan kekerasan jalur Pantura ditangkap dengan jujur. Malam-malam yang terang benderang oleh lampu truk kontras dengan kegelapan yang menyelimuti kehidupan para perempuan pekerja warung.

"Pangku" bukan sekadar film. Ia adalah cermin yang memaksa kita untuk berefleksi tentang ketimpangan, eksploitasi, dan ketidakadilan yang masih terjadi di negeri ini. Film terbaik FFI 2025 ini wajib ditonton, bukan untuk hiburan, tetapi untuk pencerahan.

Rating: 9/10

Oleh:
Fikri Ramadhan Putra
Kritikus Film

Bagikan: