Momen Natal dan Tahun Baru selalu menjadi waktu yang istimewa untuk merenungkan makna kebersamaan dan toleransi. Di Indonesia, negeri dengan keberagaman yang luar biasa, menjaga kerukunan antarumat beragama bukan sekadar pilihan, tetapi keharusan.
Saya teringat pengalaman masa kecil di sebuah kampung di Jawa Tengah. Saat Natal, tetangga Muslim kami turut membantu menghias rumah dan menyiapkan hidangan. Sebaliknya, saat Lebaran, keluarga kami membantu tetangga Muslim memasak opor dan ketupat.
Keindahan itu lahir dari kesadaran bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kekayaan. Bahwa kita bisa berbeda dalam cara beribadah tetapi tetap satu dalam kemanusiaan.
Sayangnya, di era media sosial ini, narasi-narasi yang memecah belah begitu mudah menyebar. Satu unggahan provokatif bisa membakar emosi ribuan orang dalam hitungan menit. Kita perlu lebih bijak dalam mengonsumsi dan menyebarkan informasi.
Toleransi sejati tidak cukup hanya dengan tidak mengganggu ibadah pemeluk agama lain. Toleransi sejati adalah ketika kita aktif menjaga hak mereka untuk beribadah, ketika kita hadir dalam suka dan duka mereka, ketika kita melihat mereka sebagai saudara sebangsa.
Mari jadikan momen pergantian tahun ini sebagai momentum untuk memperbarui komitmen kita dalam menjaga kerukunan. Indonesia milik kita bersama, dengan segala perbedaan yang memperkaya bukan memisahkan.
Oleh:
Siti Aminah Zahra
Aktivis Kerukunan Antarumat
Revolusi Sunyi Pak Aan: Merawat Tradisi Lewat Layar Digital
Feature - 14 Februari 2026
Oleh: Andri Kurniawan, S.Pd.I, M.A
Menempa Jiwa di Tanah Bertuah: Perkajusa SD IT Al Fatih di...
Feature - 31 Januari 2026
Oleh: Adrio Valen
Menggagas Madrasah Futuristik: Harmoni Kecerdasan Buatan...
Opini - 23 Januari 2026
Oleh: Drs. H. Jufri
Pulanglah Saat Senja Merah, Menjemput Keberkahan di Balik...
Opini - 18 Januari 2026
Oleh: Sefriza Rahma, S.Pd.I