Obat yang aman tidak hanya lahir dari formula kimia yang tepat, tetapi juga dari lingkungan yang mampu menjaga kualitasnya sejak awal proses peracikan. Sayangnya, aspek terakhir ini masih jarang mendapat perhatian publik. Ketika membahas keamanan obat, perhatian umumnya tertuju pada bahan baku, izin edar, atau kualitas tenaga kefarmasian. Padahal, kondisi ruang tempat obat diracik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari jaminan mutu produk farmasi.
Suhu ruangan yang terlalu tinggi dapat mempercepat degradasi bahan aktif tertentu. Sebaliknya, pencahayaan yang kurang memadai berpotensi meningkatkan risiko kesalahan pembacaan label, penimbangan, maupun pencampuran bahan oleh tenaga kefarmasian. Kesalahan-kesalahan tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi dapat berimplikasi langsung terhadap mutu dan keamanan obat yang diterima pasien.
Regulasi mengenai hal tersebut sebenarnya telah tersedia. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) menegaskan bahwa lingkungan produksi harus dikendalikan agar mutu produk tetap terjamin. Selain itu, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 70 Tahun 2016 menetapkan bahwa area produksi harus memiliki intensitas pencahayaan minimal 500 lux. Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa lingkungan kerja bukan sekadar fasilitas pendukung, melainkan bagian dari sistem penjaminan mutu.
Persoalannya, penerapan di lapangan belum selalu sejalan dengan standar yang ditetapkan. Masih banyak ruang racik obat di klinik, apotek, maupun fasilitas kesehatan berskala kecil dan menengah yang mengandalkan pengaturan suhu dan pencahayaan secara manual. Pendingin ruangan dinyalakan berdasarkan kebiasaan, bukan berdasarkan kondisi aktual ruangan. Lampu tetap menyala sepanjang hari meskipun ruangan sedang tidak digunakan. Pola seperti ini tidak hanya menyebabkan pemborosan energi, tetapi juga membuat pengendalian lingkungan sangat bergantung pada kedisiplinan manusia.
Ketergantungan pada operator menjadi persoalan tersendiri. Dalam kondisi pelayanan yang padat, tenaga kefarmasian tentu lebih fokus pada proses peracikan dan pelayanan pasien daripada memantau suhu ruangan atau mengatur intensitas pencahayaan. Padahal, perubahan suhu dapat terjadi tanpa disadari akibat cuaca, jumlah orang di dalam ruangan, maupun aktivitas peralatan elektronik. Sistem yang sepenuhnya bergantung pada ingatan manusia akan selalu memiliki potensi kelalaian.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin terjangkau, kondisi tersebut sebenarnya dapat diatasi melalui otomasi sederhana. Perkembangan mikrokontroler, sensor digital, dan algoritma kendali telah membuka peluang bagi fasilitas kesehatan untuk membangun sistem pengendalian lingkungan dengan biaya yang relatif rendah. Teknologi seperti ini tidak lagi menjadi monopoli industri farmasi berskala besar.
Melalui penelitian pada Program Sarjana Fisika Universitas Andalas, penulis mengembangkan purwarupa sistem kendali otomatis ruang racik obat berbasis mikrokontroler Arduino Uno yang dipadukan dengan algoritma Proportional-Integral-Derivative (PID). Sistem tersebut memanfaatkan sensor cahaya BH1750 untuk mengukur intensitas pencahayaan, sensor suhu DHT22 untuk memantau suhu ruangan, serta sensor gerak Passive Infrared (PIR) untuk mendeteksi keberadaan operator.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem mampu mempertahankan intensitas pencahayaan pada kisaran 500 lux dengan tingkat kesalahan sekitar 0,38 lux. Pada saat yang sama, suhu ruangan dapat dipertahankan pada kisaran 25°C dengan tingkat kesalahan kurang dari 0,05°C. Lampu hanya menyala ketika terdapat aktivitas operator di dalam ruangan dan akan mati secara otomatis ketika ruangan tidak digunakan. Dengan mekanisme tersebut, sistem tidak hanya menjaga kondisi lingkungan tetap sesuai standar, tetapi juga berpotensi mengurangi konsumsi energi.

Yang menarik, seluruh sistem dibangun menggunakan komponen elektronika yang mudah diperoleh di pasaran dengan biaya yang relatif terjangkau. Fakta ini menunjukkan bahwa otomasi lingkungan ruang racik obat tidak harus identik dengan investasi bernilai besar. Pendekatan berbasis mikrokontroler membuka peluang bagi fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas untuk meningkatkan standar mutu secara bertahap.
Tentu saja, hasil penelitian tersebut masih berupa purwarupa laboratorium. Implementasi pada ruang racik dengan skala operasional yang lebih besar memerlukan pengujian lanjutan, termasuk terhadap faktor kelembapan, sirkulasi udara, jumlah operator, serta ketahanan sistem dalam penggunaan jangka panjang. Namun, keterbatasan tersebut tidak mengurangi nilai penting penelitian sebagai bukti bahwa solusi yang lebih efisien dan terjangkau sangat mungkin diwujudkan.
Oleh:
Muhamad Akrivastin Hawaari, Rahmat Rasyid, M.Si
Penulis adalah mahasiswa dan dosen pembimbing Program Sarjana Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas
Reformulasi Delik Korupsi dalam KUHP Nasional: Kemajuan...
Opini - 23 Juni 2026
Oleh: Alifeannisa Putri Wiby
Ketika Hakim Harus Menemukan Hukum di Balik KUHP Baru
Opini - 03 April 2026
Oleh: Dzikri Aziz Rahman, S.H.
Revolusi Sunyi Pak Aan: Merawat Tradisi Lewat Layar Digital
Feature - 14 Februari 2026
Oleh: Andri Kurniawan, S.Pd.I, M.A
Menempa Jiwa di Tanah Bertuah: Perkajusa SD IT Al Fatih di...
Feature - 31 Januari 2026
Oleh: Adrio Valen