Minggu sore beberapa hari setelahnya, pertemuan itu benar-benar terjadi. Saya menyerahkan segepok puisi karya sendiri. Ia bertanya tentang puisi siapa saja yang saya dalami di saat itu. Maka saya jawab nama Joko Pinurbo, Afrizal Malna, Cecep Syamsul Hari yang telah menjadi jembatan percakapan pertama kami. Sejak saat itu, ritme hidup saya berubah: siang hari saya menyabit rumput untuk dijual, dan setelah Isya, saya menggenjot sepeda "reseng" menuju Intro.
Sepeda itu seperti alarm bagi Bang Iyut. Remnya tidak pakem, sehingga setiap kali sampai, saya harus menghantamkan rodanya ke gundukan tanah di bawah rumah gadang. Bunyi berisik itu merupakan pertanda bahwa si penyabit rumput telah datang. Di dalam kamarnya, malam-malam kami habiskan dengan mendengarkan lagu di MP3 atau Winamp di komputer, atau mengetik draft Surat-Surat Silvia yang sebelumnya ditulis pena secara bergantian. Terkadang kami menonton film DVD rental dan suatu kali sebuah film Irlandia yang kurang menarik akhirnya menginspirasi sebuah puisi yang berjudul Leprechaun. Kemudian hari puisi itu memenangi lomba cipta puisi nasional dan sebagian hadiahnya dibelikan sepeda motor.
Ada sebuah rahasia yang kami simpan di atas motor—yang juga kami panggil motor "Leprechaun"—dalam perjalanan ke Koto Tinggi tahun 2008 (mungkin 2007). Di tengah deru angin, ia mengatakan sebuah rencana: "Bagaimana jika Surat-Surat Silvia kita jadikan novel?" Sebuah janji yang hingga kini masih mendekam tenang dalam naskah yang belum sempat mewujud utuh.
Ketika Bang Iyut menikah, hidup kemudian memberi saya jeda sepuluh tahun. Saya menepi, sibuk mengadu nasib sebagai blogger dan kembali menyabit rumput jika dompet digital mengering. Selama sepuluh tahun itu saya nyaris tidak bersentuhan dengan sastra. Namun, tahun 2017, saya kembali bertemu dengannya setelah melakukan observasi tentang PDRI. Pada tahun 2019, saya menemaninya menyusuri lekuk Batang Sinama untuk menyelesaikan buku puisi Sinama. Mulai dari hulu Sinama di Gunung Omeh hingga bermuara di Tanjung Ampalu Sijunjung. Perjalanan menyusuri sungai itu bukan lagi sekadar riset untuk buku puisinya, melainkan sebuah rekonsiliasi bagi saya dengan dunia yang pernah saya tinggalkan.
Kini, 27 April 2026, arus Batang Sinama terus mengalir, namun sang penyair telah memutuskan untuk berhenti di muara terakhirnya. Bagi saya, kepergian Bang Iyut adalah hilangnya telinga paling sabar yang pernah mendengarkan bunyi berisik sepeda reseng saya di keheningan malam.
Selamat jalan, Bang Iyut. Terima kasih telah mengajarkan saya bahwa dari padang rumput dan lumpur sawah, sebuah kata-kata bisa lahir dan terbang jauh melampaui batas kota kecil ini.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh
Penulis: Anthony Hewish
Editor: Feni Efendi