12 Jet Tempur F-22 Raptor AS Mendarat di Israel, Ketegangan dengan Iran Kian Memanas

Minggu, 01 Maret 2026, 06:00 WIB | Politik | Internasional

Sebanyak 12 unit jet tempur F-22 Raptor milik Angkatan Udara Amerika Serikat telah mendarat di pangkalan udara Israel pada Selasa (24/2/2026) waktu setempat. Kedatangan armada tempur generasi kelima tersebut menjadi sinyal meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran di kawasan Timur Tengah.

Kabar pendaratan jet tempur tercanggih di dunia ini dilaporkan oleh lembaga penyiaran publik Israel, KAN, dan dikutip oleh kantor berita Anadolu Agency. "Dua belas jet tempur F-22 AS mendarat siang ini di salah satu pangkalan Angkatan Udara Israel di wilayah selatan negara itu, sebagai bagian dari pengerahan Amerika di Timur Tengah," sebut KAN dalam laporannya.

Jet Tempur Paling Canggih di Dunia

F-22 Raptor merupakan jet tempur siluman (stealth) yang hanya dimiliki oleh Amerika Serikat. Pesawat ini memiliki kemampuan khusus untuk menembus wilayah pertahanan musuh dan melumpuhkan sistem pertahanan udara serta instalasi radar. Menurut laporan OSINTdefender, sebelas dari dua belas pesawat F-22 berangkat dari pangkalan RAF Lakenheath di Suffolk, Inggris, dan mendarat di Pangkalan Udara Ovda di Gurun Negev, Israel Selatan. Satu pesawat terpaksa kembali ke pangkalan asal karena diduga mengalami kebocoran bahan bakar.

Pengerahan Militer Terbesar Sejak Invasi Irak 2003

Penguatan militer AS di kawasan Timur Tengah tidak hanya melalui pengerahan jet tempur. Pada Senin (23/2/2026), kapal induk terbesar Angkatan Laut AS, USS Gerald R. Ford, dilaporkan telah berlabuh di kota pelabuhan Haifa, Israel. Selain itu, kapal induk USS Abraham Lincoln bersiaga di Laut Arab. Washington disebut telah menempatkan lebih dari 40.000 personel militer beserta lebih dari 150 pesawat tempur, termasuk F-35 Lightning II, di berbagai pangkalan strategis di Eropa dan Timur Tengah.

Pengerahan besar-besaran ini terjadi di tengah ancaman Presiden AS Donald Trump yang memperingatkan akan melancarkan serangan militer terhadap Iran jika negosiasi nuklir gagal. Dalam pidato kenegaraan (State of the Union) pada Selasa malam (24/2/2026), Trump menyatakan preferensinya untuk menyelesaikan masalah melalui diplomasi, namun menegaskan tidak akan pernah membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.

Iran merespons dengan keras melalui juru bicara Kementerian Luar Negerinya yang menuduh Trump menyebarkan "kebohongan besar" terkait program nuklir Iran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Teheran tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir dalam keadaan apa pun.

Penulis: Rudrik Syaputra
Editor: Agung Pambudi
Sumber: Detik

Bagikan: